Part I
Janji
itu wajib hukumnya ditepati. Tidak bisa ditawar!! Apalagi diingkari.
Satu
saat dimana kamu memintaku untuk pulang bersamamu. Kamu berjanji untuk
menemuiku jam satu siang. Kamu memintaku menunggumu disuatu tempat, terminal.
Menunggu
bukan hal yang menyenangkan bagi banyak orang, bagiku juga. Tapi karenamu
menunggu jadi menyenangkan. Menyenangkan sekali membayangkan beberapa menit
lagi aku akan bertemu denganmu. Denganmu yang kusayangi...
Tiga
puluh menit berlalu tanpa kabar. Ah mungkin jalanan macet, maklumlah Bandung,
kota padat penduduk dengan banyak macam kendaraan. Aku tetap berdiri disini,
menunggumu.
Satu
jam berlalu masih tanpa kabar. Aku putuskan untuk mengirimu sebuah pesan
singkat. Lalu kamu memintaku untuk menunggu sebentar lagi. Aku masih bisa
bersabar untuk menunggumu di depan sebuah toko makanan di depan jalan raya yang
ramai, jalan dekat dengan terminal.
Satu
jam lewat tiga puluh menit kamu masih belum datang dihadapanku. Aku kembali
mengirimimu sebuah pesan singkat. Lalu kamu bilang masih ada urusan. Oke, aku
tunggu hingga urusanmu selesai meskipun kedua kaki ini telah lelah berdiri
menunggumu namun aku tetap pada keyakinanku untuk menunggumu.
Dua
jam berlalu sejak aku tiba ditempat itu, tapi kamu belum juga datang. Aku
kembali mengirimimu sebuah pesan singkat namun kamu tak membalasnya. Kini, aku
tidak hanya menunggu kedatanganmu tapi menunggu balasan pesan darimu juga.
Ah,mungkin kamu sedang dijalan hingga tak bisa membalas pesanku.
Dua
jam tiga puluh menit berlalu begitu saja tanpa kamu dan tanpa pesan balasan.
Kini aku cemas, berkeringat dingin, takut sesuatu yang buruk terjadi padamu
yang kukasihi hingga kedua kaki ini tak mampu lagi berdiri. Masih ditempat yang
sama, di depan toko makanan. Aku duduk diatas helm yang sedari tadi kubawa. Aku
duduk dengan mata cemas. Ratusan bahkan ribuan kendaraan telah berlalu lalang
didepanku, namun kamu belum juga datang.
Tiga
jam berlalu dan aku masih sendiri. Kamu dimana? Ku kirimi kamu pesan
lagi,berharap kamu menjawabnya. Kamu bilang masih ada urusan dengan seorang
tukang. Jawaban pesan darimu sedikit melegakanku, menandakan tidak terjadi
apapun denganmu. Aku masih duduk diatas helm menunggumu datang dengan hati
tenang dan kembali bersemangat karena mungkin limabelas atau tigapuluh menit
lagi kamu akan menjemputku.
Tiga
jam tiga puluh menit berlalu, kamu belum datang. Ah mungkin macet atau
berangkatnya telat. Dan sebuah pesan pun masuk. Kamu bilang sebentar lagi
sampai. Oke, aku masih sedang menunggumu. Pesan itu menguatkanku untuk segera
bangkit dari tempat dudukku (baca:helm) dan melihat kearah dimana kamu akan
datang.
Empat
jam berlalu! kesabaranku mulai goyah. Rasa kesal didalam dada mulai memanas.
Apakah sejauh itu jarak DU dan tempatku berdiri? Aku rasa tidak!!
Darmaraja-Bandung yang jaraknya kurang lebih 70km pun bisa ditempuh dengan dua
jam perjalanan. Sedangkan aku dan kamu berada dalam satu kota yang sama! Dan
kamu masih belum tiba setelah berjam-jam.
Lima
jam berlalu. Kesabaranku kali ini benar-benar hilang. Aku telpon kamu namun tak
diangkat. Aku mengirimu sebuah pesan. Dan yang sangat menyakitiku adalah kamu
bilang “kamu masih nunggu aku?”...
Maksud
kamu apa? Maksudnya apa bilang seperti itu? Jadi dari tadi kamu berharap aku
berhenti menunggu kamu? Atau kamu tak mengerti pesan-pesan yang kukirim
sebelumnya? Ah mana mungkin! Kamu bukan orang bodoh...kamu ngerti! Hanya saja
kamu pecundang kelas cacing yang tak berani bilang yang sebenarnya.
Sejak
pesan bodoh itu aku baca. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berjalan pergi
meninggalkan tempat dimana aku menunggumu selama berjam-jam. Aku tak peduli
dengan orang-orang disekitar yang sejak jam pertama memperhatikanku yang
mungkin berfikir aku gila karena ratusan bus lewat namun tak satupun aku naiki.
Berjalan
menjauh dari tempat itu, hanya berjalan yang aku mau. Aku berjalan dengan
langkah kakiku yang cepat, aku melihat kedepan tanpa menoleh, dan aku tak
memperdulikan air mataku yang bercucuran. Aku hanya ingin menjauh dari tempat
aku menunggumu. Aku tak ingin menunggumu lagi.
Setelah
lama berjalan aku naik sebuah bus yang sedang berhenti menunggu penumpang
dengan tujuan Sumedang, rumahku. Aku duduk bersebelahan dengan helm putihku dekat
pintu bus dengan mata membengkak dan tatapan kosong.
Seorang
kondektur bus tersebut memperhatikanku dan ia berkata dengan nada bercanda
“kemana motornya neng? Ko bawa helmnya aja? Di tilang ya?”. Aku marah dengan
pertanyaan-pertanyaan itu, sangat marah. Aku turun dari bus, lalu membuang helm
tersebut disebuah tong sampah depan mini market. Si kondektur hanya melongo.
Kini aku tak tahu siapa yang bego, kondektur atau aku. Yang jelas kemarahan ini
bukan untuk si kondektur, dan aku tidak seharusnya bersikap seperti itu.
Memalukan!
Sepuluh
menit bus berjalan. Kamu mengirimiku pesan dan bilang kalau kamu sudah tiba
ditempat yang kita janjikan untuk kita bertemu. Dia juga bertanya aku berada
dimana. Aku muak dengan pesan-pesan itu. Namun, aku harus membalas pesannya.
Aku tidak boleh jadi pecundang. Aku jawab kalau aku sudah berada di bus.
Dengan
nada tak berdosa kamu bilang kalau aku tak menunggumu. Gila, kamu gila. Kamu
lebih daripada gila. Kepura-puraanmu tidak masuk akal. Sudah jelas aku menunggu
janjimu untuk menjemputku. Tapi kamu sengaja mengulurnya agar aku bosan dan berhenti
menunggumu! Iya kamu ingin aku berhenti menunggumu.
Masih
dengan nada tulisan tak berdosa kamu meminta maaf karena keterlambatanmu dan
memintaku untuk pulang bareng lain kali. Aku tak tahu mana yang kamu tidak
punyai, hati atau otak?
Aku
tak mau jadi pecundang yang tak membereskan sesuatu yang tidak beres. Aku jawab
kalau kita tidak usah pulang bareng dan kamu tidak usah menghubungiku lagi.
Lalu, kamu mencoba menelponku. Aku rasa tak ada yang harus dibicarakan. Menolak
panggilanmu adalah pilihanku, dan mematikan telpon genggamku adalah yang
terbaik.
Selamat!
Kamu berhasil membuatku membencimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar