Kamis, 30 Juni 2016

Janji

Part I

Janji itu wajib hukumnya ditepati. Tidak bisa ditawar!! Apalagi diingkari.
Satu saat dimana kamu memintaku untuk pulang bersamamu. Kamu berjanji untuk menemuiku jam satu siang. Kamu memintaku menunggumu disuatu tempat, terminal.
Menunggu bukan hal yang menyenangkan bagi banyak orang, bagiku juga. Tapi karenamu menunggu jadi menyenangkan. Menyenangkan sekali membayangkan beberapa menit lagi aku akan bertemu denganmu. Denganmu yang kusayangi...
Tiga puluh menit berlalu tanpa kabar. Ah mungkin jalanan macet, maklumlah Bandung, kota padat penduduk dengan banyak macam kendaraan. Aku tetap berdiri disini, menunggumu.
Satu jam berlalu masih tanpa kabar. Aku putuskan untuk mengirimu sebuah pesan singkat. Lalu kamu memintaku untuk menunggu sebentar lagi. Aku masih bisa bersabar untuk menunggumu di depan sebuah toko makanan di depan jalan raya yang ramai, jalan dekat dengan terminal.
Satu jam lewat tiga puluh menit kamu masih belum datang dihadapanku. Aku kembali mengirimimu sebuah pesan singkat. Lalu kamu bilang masih ada urusan. Oke, aku tunggu hingga urusanmu selesai meskipun kedua kaki ini telah lelah berdiri menunggumu namun aku tetap pada keyakinanku untuk menunggumu.
Dua jam berlalu sejak aku tiba ditempat itu, tapi kamu belum juga datang. Aku kembali mengirimimu sebuah pesan singkat namun kamu tak membalasnya. Kini, aku tidak hanya menunggu kedatanganmu tapi menunggu balasan pesan darimu juga. Ah,mungkin kamu sedang dijalan hingga tak bisa membalas pesanku.
Dua jam tiga puluh menit berlalu begitu saja tanpa kamu dan tanpa pesan balasan. Kini aku cemas, berkeringat dingin, takut sesuatu yang buruk terjadi padamu yang kukasihi hingga kedua kaki ini tak mampu lagi berdiri. Masih ditempat yang sama, di depan toko makanan. Aku duduk diatas helm yang sedari tadi kubawa. Aku duduk dengan mata cemas. Ratusan bahkan ribuan kendaraan telah berlalu lalang didepanku, namun kamu belum juga datang.
Tiga jam berlalu dan aku masih sendiri. Kamu dimana? Ku kirimi kamu pesan lagi,berharap kamu menjawabnya. Kamu bilang masih ada urusan dengan seorang tukang. Jawaban pesan darimu sedikit melegakanku, menandakan tidak terjadi apapun denganmu. Aku masih duduk diatas helm menunggumu datang dengan hati tenang dan kembali bersemangat karena mungkin limabelas atau tigapuluh menit lagi kamu akan menjemputku.
Tiga jam tiga puluh menit berlalu, kamu belum datang. Ah mungkin macet atau berangkatnya telat. Dan sebuah pesan pun masuk. Kamu bilang sebentar lagi sampai. Oke, aku masih sedang menunggumu. Pesan itu menguatkanku untuk segera bangkit dari tempat dudukku (baca:helm) dan melihat kearah dimana kamu akan datang.
Empat jam berlalu! kesabaranku mulai goyah. Rasa kesal didalam dada mulai memanas. Apakah sejauh itu jarak DU dan tempatku berdiri? Aku rasa tidak!! Darmaraja-Bandung yang jaraknya kurang lebih 70km pun bisa ditempuh dengan dua jam perjalanan. Sedangkan aku dan kamu berada dalam satu kota yang sama! Dan kamu masih belum tiba setelah berjam-jam.
Lima jam berlalu. Kesabaranku kali ini benar-benar hilang. Aku telpon kamu namun tak diangkat. Aku mengirimu sebuah pesan. Dan yang sangat menyakitiku adalah kamu bilang “kamu masih nunggu aku?”...
Maksud kamu apa? Maksudnya apa bilang seperti itu? Jadi dari tadi kamu berharap aku berhenti menunggu kamu? Atau kamu tak mengerti pesan-pesan yang kukirim sebelumnya? Ah mana mungkin! Kamu bukan orang bodoh...kamu ngerti! Hanya saja kamu pecundang kelas cacing yang tak berani bilang yang sebenarnya.
Sejak pesan bodoh itu aku baca. Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung berjalan pergi meninggalkan tempat dimana aku menunggumu selama berjam-jam. Aku tak peduli dengan orang-orang disekitar yang sejak jam pertama memperhatikanku yang mungkin berfikir aku gila karena ratusan bus lewat namun tak satupun aku naiki.
Berjalan menjauh dari tempat itu, hanya berjalan yang aku mau. Aku berjalan dengan langkah kakiku yang cepat, aku melihat kedepan tanpa menoleh, dan aku tak memperdulikan air mataku yang bercucuran. Aku hanya ingin menjauh dari tempat aku menunggumu. Aku tak ingin menunggumu lagi.
Setelah lama berjalan aku naik sebuah bus yang sedang berhenti menunggu penumpang dengan tujuan Sumedang, rumahku. Aku duduk bersebelahan dengan helm putihku dekat pintu bus dengan mata membengkak dan tatapan kosong.
Seorang kondektur bus tersebut memperhatikanku dan ia berkata dengan nada bercanda “kemana motornya neng? Ko bawa helmnya aja? Di tilang ya?”. Aku marah dengan pertanyaan-pertanyaan itu, sangat marah. Aku turun dari bus, lalu membuang helm tersebut disebuah tong sampah depan mini market. Si kondektur hanya melongo. Kini aku tak tahu siapa yang bego, kondektur atau aku. Yang jelas kemarahan ini bukan untuk si kondektur, dan aku tidak seharusnya bersikap seperti itu. Memalukan!
Sepuluh menit bus berjalan. Kamu mengirimiku pesan dan bilang kalau kamu sudah tiba ditempat yang kita janjikan untuk kita bertemu. Dia juga bertanya aku berada dimana. Aku muak dengan pesan-pesan itu. Namun, aku harus membalas pesannya. Aku tidak boleh jadi pecundang. Aku jawab kalau aku sudah berada di bus.
Dengan nada tak berdosa kamu bilang kalau aku tak menunggumu. Gila, kamu gila. Kamu lebih daripada gila. Kepura-puraanmu tidak masuk akal. Sudah jelas aku menunggu janjimu untuk menjemputku. Tapi kamu sengaja mengulurnya agar aku bosan dan berhenti menunggumu! Iya kamu ingin aku berhenti menunggumu.
Masih dengan nada tulisan tak berdosa kamu meminta maaf karena keterlambatanmu dan memintaku untuk pulang bareng lain kali. Aku tak tahu mana yang kamu tidak punyai, hati atau otak?
Aku tak mau jadi pecundang yang tak membereskan sesuatu yang tidak beres. Aku jawab kalau kita tidak usah pulang bareng dan kamu tidak usah menghubungiku lagi. Lalu, kamu mencoba menelponku. Aku rasa tak ada yang harus dibicarakan. Menolak panggilanmu adalah pilihanku, dan mematikan telpon genggamku adalah yang terbaik.

Selamat! Kamu berhasil membuatku membencimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar